NUNUKAN – Lomba Mabettang yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan mendapat sambutan antusias dari masyarakat, memasuki tahun kedua pelaksanaannya, kegiatan ini dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai event yang mengangkat aktivitas masyarakat pembudidaya rumput laut.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Nunukan, Juned, mengatakan pelaksanaan Lomba Mabettang tahun ini menunjukkan respons positif dari masyarakat, peserta maupun media.
“Ini adalah tahun kedua Dinas Pariwisata melaksanakan kegiatan Mabettang, sambutan dan antusiasme peserta luar biasa, ini perlu kita tingkatkan ke depan supaya kualitas event-nya juga semakin baik,” ujar Juned, Minggu (4/10/2016).
Menurutnya, Mabettang bukan sekadar perlombaan, tetapi bagian dari aktivitas masyarakat yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan dan perekonomian masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya rumput laut.
Ia menilai potensi tersebut menjadi alasan kuat bagi pemerintah daerah untuk terus melaksanakan dan mengembangkan Mabettang sebagai salah satu event daerah.
“Karena aktivitas Mabettang ini menjadi salah satu aktivitas yang sangat potensial, bahkan cukup menarik perhatian, apalagi posisi kita sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut, saya rasa ini event yang sangat menarik dan perlu terus dilaksanakan,” katanya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti perlombaan. Ketua Panitia Lomba Mabettang, Darmi, menyebut sebanyak 50 peserta mendaftarkan diri, dengan 46 peserta hadir dan mengikuti perlombaan.
“Peserta yang hadir sebanyak 46 orang, terdiri dari 12 peserta putra dan 34 peserta putri,” jelasnya.
Menurut Juned, dominasi peserta perempuan, khususnya ibu-ibu muda, menjadi gambaran bahwa Mabettang memiliki kedekatan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat pesisir.
Karena itu, pemerintah daerah memandang kegiatan tersebut tidak hanya sebagai hiburan dalam rangka perayaan HUT Kabupaten Nunukan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya mengangkat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Bagi kami, Mabettang sudah menjadi aktivitas yang cukup vital dalam menggerakkan ekonomi masyarakat, termasuk ibu-ibu, karena itu kita harus memberikan perhatian yang serius. Satu sisi lomba ini menghibur, tetapi di sisi lain juga menggerakkan ekonomi mereka,” tutur Juned.
Ia mengatakan, pelaksanaan tahun kedua menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi, salah satu perhatian yang perlu diperbaiki adalah lokasi dan fasilitas perlombaan agar dapat mengakomodasi jumlah peserta dan masyarakat yang semakin banyak.
“Dengan antusiasme yang semakin besar, tempat yang digunakan saat ini masih kurang memadai, ke depan mungkin menjadi pertimbangan agar lokasi lebih luas,” katanya.
Selain lokasi, fasilitas pendukung perlombaan juga akan menjadi bahan evaluasi, mulai dari sound system, alat penghitung waktu atau timer, hingga papan informasi agar pelaksanaan lomba dapat berlangsung lebih tertib dan menarik.
Sementara itu, terkait hadiah bagi para pemenang, Juned memastikan pemerintah daerah tetap akan memenuhi hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menjelaskan, anggaran kegiatan saat ini berkaitan dengan anggaran perubahan yang masih dalam proses. Karena menggunakan anggaran pemerintah, penyaluran hadiah harus mengikuti mekanisme dan ketentuan administrasi yang berlaku.
“Yang jelas, hadiah bagi para pemenang pasti kita penuhi. Penyalurannya tentu harus sesuai dengan ketentuan karena kita menggunakan anggaran pemerintah, sehingga ada mekanisme yang harus kita ikuti,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan lomba, peserta diuji tidak hanya dari sisi kecepatan, tetapi juga kerapian dan ketepatan dalam mengikat rumput laut.
Dewan juri, Risqi, menjelaskan setiap peserta diberikan waktu maksimal 10 menit untuk menyelesaikan satu bentangan rumput laut dengan panjang rata-rata 15 depa.
“Kalau peserta bisa menyelesaikan sebelum 10 menit, tentu waktunya akan dihitung, tetapi ada syaratnya, seluruh tali cincin harus terisi penuh dan saat pemeriksaan tidak ada yang terlepas atau jatuh,” jelas Risqi.
Dengan demikian, penilaian tidak semata-mata ditentukan oleh peserta yang paling cepat menyelesaikan bentangan, kualitas ikatan menjadi bagian penting dalam menentukan pemenang.
“Jadi yang dinilai adalah kecepatan, kerapian dan ketepatan pengikatannya,” tambahnya.
Juned berharap evaluasi dari pelaksanaan tahun kedua dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan Lomba Mabettang yang semakin baik pada tahun-tahun berikutnya, tidak hanya sebagai bagian dari kemeriahan HUT Kabupaten Nunukan, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan aktivitas masyarakat pembudidaya rumput laut kepada masyarakat luas.
“Ini harus kita kemas lebih bagus ke depan,” tutupnya. (*)
Teks/Foto : BD Novelinna (Tim Publikasi DINAS KOMUNIKASI INFORMATIKA STATISTIK DAN PERSANDIAN )
Editor : BD Novelinna
















