NUNUKAN – Upaya melestarikan sekaligus mengembangkan motif Batik Lulantatibu sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Nunukan terus dilakukan melalui berbagai kegiatan kreatif. Salah satunya melalui lomba desain yang melibatkan pelajar dan peserta umum.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Nunukan, Juned, mengatakan antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi, lomba tersebut dibagi dalam dua kategori, yakni pelajar dan umum.
“Untuk tahun ini lumayan juga pesertanya, ada kategori pelajar dan umum. Pelajar ada sekitar 42 orang, sementara kategori umum sekitar 10 peserta,” kata Juned, Minggu (4/10/2026).
Kategori pelajar diikuti siswa tingkat SMP, dalam perlombaan tersebut, peserta diminta membuat desain sejak awal dengan memasukkan lima motif dasar Lulantatibu yang menjadi unsur penting dalam identitas batik khas Nunukan.
Panitia telah memberikan referensi mengenai lima motif dasar tersebut. Selanjutnya, peserta bebas mengembangkan desain sesuai kreativitas masing-masing, baik menggunakan konsep monokrom maupun warna penuh.
“Intinya mereka harus menggambar dan memuat lima motif dasar Lulantatibu. Mau monokrom boleh, mau full color juga boleh, yang penting lima motif dasar itu ada di dalam desain,” jelasnya.
Panitia menyediakan kertas dan pensil sebagai media dasar. Sementara teknik pewarnaan dan pengembangan desain diserahkan kepada kreativitas masing-masing peserta.
Menurut Juned, lomba tersebut tidak sekadar menjadi ajang mencari pemenang. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan kepada generasi muda bahwa Nunukan memiliki motif batik yang lahir dari keberagaman budaya masyarakatnya.
Batik Lulantatibu memiliki kekhasan karena menggabungkan lima motif dasar yang merepresentasikan unsur budaya dari suku-suku adat di Kabupaten Nunukan. Perpaduan tersebut menjadi identitas yang membedakannya dari motif batik yang hanya menonjolkan satu unsur budaya.
“Tujuannya paling tidak untuk melestarikan dan memberikan pengetahuan bahwa kita punya Batik Lulantatibu yang sangat khas. Motif itu menggabungkan motif-motif dasar dari suku-suku yang ada di Kabupaten Nunukan,” ujarnya.
Melalui lomba desain, peserta juga diajak melihat bahwa motif dasar Lulantatibu dapat terus dikembangkan menjadi berbagai desain baru tanpa menghilangkan ciri khasnya.
“Yang paling penting adalah memberikan variasi desain, ternyata motif-motif ini kalau dipadu-padankan bisa punya banyak desain yang menarik,” katanya.
Juned berharap lomba tersebut dapat menjadi sumber referensi bagi pengembangan desain Batik Lulantatibu ke depan, kreativitas para peserta diharapkan membuka peluang lahirnya motif dan desain baru yang tetap berpijak pada lima motif dasar Lulantatibu.
Dalam pelaksanaannya, penilaian melibatkan tiga orang juri yang memiliki pengalaman sebagai pengamat sekaligus pengrajin batik.
Lebih jauh, Juned mengatakan hasil karya dalam lomba tersebut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Dengan demikian, desain yang dihasilkan peserta tidak berhenti sebagai karya perlombaan, tetapi berpeluang menjadi inspirasi bagi pengembangan produk batik Nunukan.
Perkembangan pengrajin Batik Lulantatibu di Nunukan, menurut Juned, juga menunjukkan kemajuan, hal tersebut terlihat dari perkembangan desain, kualitas produk hingga kemasan yang semakin baik.
“Indikatornya kelihatan, tahun 2025 sudah masuk 10 besar terbaik untuk suvenir peningkatan nasional. Itu menunjukkan bahwa desain, kualitas produk, kemasan dan sebagainya sudah jauh berkembang,” ungkapnya.
Ke depan, pengembangan Batik Lulantatibu diharapkan terus mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pasar. Inovasi desain dan produk tetap diperlukan agar batik khas Nunukan semakin dikenal, namun pengembangannya harus tetap mempertahankan ciri khas lima motif dasar yang menjadi identitas Lulantatibu.
Dengan melibatkan generasi muda dalam proses kreatif, pelestarian Batik Lulantatibu tidak hanya dilakukan dengan mengenalkan motif lama, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya desain baru yang tetap membawa identitas budaya Nunukan. (*)
Teks/Foto : BD Novelinna (Tim Publikasi DINAS KOMUNIKASI INFORMATIKA STATISTIK DAN PERSANDIAN )
Editor : BD Novelinna
















